News / Kolom / Berita
Kolom

Panik Ditahun Politik

akurat logo
Ujang Komarudin
Kamis, 04 Januari 2018 09:17 WIB
Share
 
Panik Ditahun Politik
Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Dok. Pribadi

AKURAT.CO.ID, Tahun 2018 sedang dan akan kita jalani. Ditahun ini pula akan dilaksanakan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak putaran terakhir menjelang Pileg dan Pilpres 2019. Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh harapan, tantangan, dan peluang. Bagi petualang politik, tahun politik menjadi momen yang baik untuk menaikan karir politiknya. Kesempatan untuk menjadi kepala daerah, anggota legislatif, bahkan menjadi presiden sangat terbuka. Tahun politik akan menjadi golden moment bagi para aktor politik di pusat maupun di daerah.

Memburu kekuasaan tidak dilarang. Asalkan dilakukan dengan cara-cara yang baik dan beradab. Etika politik harus dikedepankan dan dijunjung tinggi. Tanpa etika politik kita ada dalam bayang-bayang politik yang cenderung menghalalkan segala cara. Cara apapun akan ditempuh yang penting bisa berkuasa. Ini sangat berbahaya dan tidak sesuai dengan tuntunan agama dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Sejatinya manusia memang ingin berkuasa, karena dengan kekuasaan orang akan dihargai dan bergelimang dengan harta.

Namun tahun politik juga bisa membawa dampak negarif jika tidak bisa diantisipasi. Seperti akan muncul dan membesarnya isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Oleh karena itu, kita jangan panik ditahun politik dan kita juga jangan menghembuskan isu SARA yang dapat memecah belah bangsa. Mari kita jaga kondisifitas ditahun politik yang penuh intrik ini. Menjaga persatuan dan kesatuan lebih penting dari pada merebut kekuasaan. Kekuasaan yang tidak mampu mempersatukan sama halnya dengan menebar perpecahan.

Tahun politik juga bisa menjadi menjadi tahun kepanikan bagi calon kepala daerah. Karena untuk menjadi calon kepala daerah tidak sedikit modal yang harus dikeluarkan. Bahkan untuk daerah tertentu calon kepala daerah bisa menghabiskan dana 40 Milyar untuk maju menjadi kepala daerah dan belum tentu terpilih. Jika terpilih calon kepala daerah tersebut paling tidak bisa tersenyum dan berfikir untuk mengembalikan modal politik tersebut. Namun resikonya bisa berurusan dengan penegak hukum, jika cara mendapatkannya dengan cara-cara haram dengan cara mengobral ijin tambang atau menggunakan APBD untuk kepentingan politik.

Yang lebih panik lagi jika calon kepala daerah kalah. Sudah keluar dana banyak kalah pula. Tentu hal ini menyakitkan. Tetapi itulah demokrasi di kita masih berbiaya tinggi dan rentan dengan korupsi. Calon kepala daerah yang kalah juga bisa terlilit hutang, karena biaya yang dikeluarkan untuk kampanye ternyata dari hasil pinjaman kepada orang lain. Dan tidak sedikit calon kepala daerah yang kalah berurusan dengan hukum. Bahkan yang lebih tragis lagi, calon kepala daerah yang gagal bisa menjadi gila. Hal ini juga banyak terjadi di daerah-daerah.

Sejatinya tahun politik harus menjadi tahun yang menyenangkan dan membahagiakan. Pesta demokrasi Pilkada lima tahunan harus menjadi pesta rakyat yang dapat menjadikan rakyat tersenyum dengan kegembiraan. Rakyat harus disuguhkan dengan Pilkada yang berkualitas. Pilkada yang menampilkan calon-calon kepala daerah terbaik. Memiliki visi-misi dan program terbaik yang terukur dan bisa diimplementasikan untuk kesejahteran masyarakat. Masyarakat juga harus disuguhkan dengan ide-ide segar calon kepala daerah mampu membawa perubahan bagi daerah dan mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat yang dipimpinnya.

Tahun politik bukan tahun untuk menebar kebencian dan caci maki. Dan bukan juga tahun kepanikan. Jadikan tahun politik menjadi momentum perbaikan daerah. Jika 171 daerah yang akan melaksanakan Pilkada 2018 menghasilkan kepala daerah yang bersih dan berkualitas, maka otomatis daerah-daerah tersebut akan mengalami pertumbuhan dan kemajuan. Dan jika daerah-daerahnya maju, maka Indonesia pun akan maju dan jaya. Jangan sampai yang terjadi sebaliknya, jika Pilkada menghasilkan pemimpin yang korup, maka pembangunan daerah pun tidak akan terjadi. Keinginan rakyat untuk menikmati kehidupan yang layak dan sejahtera hanya tinggal angan-angan belaka.

Di tangan pemimpin yang baik, daerah akan baik. Dan ditangan kepala daerah yang korup, daerah akan hancur. Tidak ada daerah di negeri ini yang daerahnya maju karena kepala daerahnya korup. Oleh karena itu, demi untuk kebaikan rakyat Indonesia memilih pemimpin ditahun politik harus berdasarkan rasionalitas dan pilih yang terbaik diantara yang terbaik. Bangsa ini tidak akan kekurangan stok calon pemimpin daerah dan pusat yang bersih dan visioner. Dan orang-orang bersih dan visioner tersebut harus dimunculkan agar menjadi pemimpin-pemimpin daerah dan Indonesia saat ini dan yang akan datang.

Jangan sampai politik dan kekuasaan dikuasai oleh orang-orang yang tidak jelas konsep dan asal-usulnya. Politik di daerah dan pusat harus dikuasai oleh orang-orang baik yang memiliki ide dan gagasan orisinil pembangunan daerah dan nasional. Jika politik diisi dan dikuasai oleh orang-orang baik, maka kebijakan-kebijakan yang dihasilkan akan baik dan untuk kepentingan rakyat. Begitu juga sebaliknya, jika politik diserahkan kepada orang-orang yang tidak baik, maka tinggal tunggu saja kehancuran bangsa ini. Karena politisi yang berkarakter dan bermental buruk hanya akan berjuang untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya, bukan untuk kepentingan rakyat dan juga bangsa dan negara.

Pilkada sejatinya harus melahirkan pemimpin yang mencintai rakyatnya. Bukan pemimpin yang merasa berkuasa dan mengabaikan yang dipimpinnya. Rakyat lah yang menentukan akan memilih siapa yang dikehendakinya. Momentum terbaik untuk merubah daerah dan bangsa ini ada ditahun politik saat ini. Oleh karena itu, pergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya agar tidak menyesal dikemudian hari.

Tahun politik juga menjadi ajang menjaga dan mempertahankan eksistensi partai politik dan elit-elitnya. Saling jegal, hancur, dan bunuh menjadi bagian yang tak terelakan dalam pertarungan di tahun politik. Namun mari kita nikmati tahun politik dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jangan jadikan tahun politik sebagai tahun penuh kepanikan dan penderitaan. Nikmati dan syukuri tahun baru dan tahun politik sebagai bagian dari pendewasaan bangsa Indonesia menuju kejayaan dan kemakmuran.

Selamat tahun baru 2018 dan menikmati tahun politik.

 

(Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta )


Editor. Sunardi Panjaitan

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Pangdam IX Ingatkan Potensi Konflik Meningkat di Tahun Politik

Selasa, 20 Februari 2018 02:14 WIB

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto mengingatkan akan acaman yang yang harus diantisipasi oleh dengan baik oleh bangsa Indonesia.


Bungkam Betis, Real Madrid Ciptakan Gol ke-6.000

Selasa, 20 Februari 2018 02:10 WIB

Pesta gol terjadi di markas Real Betis


Mantan Komisioner Komnas HAM Dukung Pati Polri Jadi Plt Gubernur Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 01:35 WIB

Pigai mengaku mendukung keputusan Mendagri yang mengangkat Pati Polri untuk menjadi Plt GUbernur Sumut


Seekor Paus Ditemukan Mati di Kawasan Pulau Banyak

Selasa, 20 Februari 2018 01:10 WIB

Seekor paus ditemukan mati di Pulau Asoq.


Ayah James Restui Sang Anak Tinggalkan Real Madrid

Selasa, 20 Februari 2018 01:00 WIB

Dia menjalani masa pinjaman selama dua musim di Muenchen


Dapat Nomor Urut 11, Ini Kata Ketua DPD PSI Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 00:47 WIB

Fuad Ginting mengaku bersyukur partainya itu mendapatkan nomor urut 11 pada Pemilu 2019 mendatang.


Namanya Disebut, Fahri Hamzah: Nazaruddin Panik Persekongkolan Mulai Terbuka

Selasa, 20 Februari 2018 00:27 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi pernyataan Nazaruddin yang menyebut namanya.


Persib Kehabisan Stok Striker Lokal Berkualitas?

Selasa, 20 Februari 2018 00:20 WIB

Setidaknya Persib butuh empat pemain tambahan


Terinspirasi Masa Kecil, 'Guru Ngaji' Ingin Sejahterakan Pengajar Agama

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Film dikemas secara ringan sehingga bisa menjadi tontonan bagi semua kalangan dan didedikasikan untuk pengajar agama atau guru ngaji.


Kesalahan Fatal Tim Kasta Tiga Saat Jamu Spurs

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Kedua tim harus memainkan laga replay


Pemerintah Diminta Berdamai dengan Kelompok Habib Rizieq, Jika Tidak, Ini yang Akan Terjadi

Senin, 19 Februari 2018 23:56 WIB

Pemerintah seharusnya berdamai dengan kelompok yang menjadi pendukung Habib Rizieq Shihab.


Dikhianati Istri dan Pamannya, Ini yang Dilakukan Sandi

Senin, 19 Februari 2018 23:46 WIB

Pelaku emosi saat melihat korban melintas membawa dagangan dari arah utara.


Meski Kepulangan Habib Rizieq Belum Pasti, Eggi Sudjana Klaim Puluhan Ormas Siap Kawal

Senin, 19 Februari 2018 23:45 WIB

Eggi Sudjana mengklaim akan ada puluhan ormas yang bakal menjemput Habib Rizieq Shihab di Bandara Soekarno Hatta 21 Februari mendatang.


Nazarudin Tiba-tiba Merintih saat Ditanya Soal Puan Maharani di e-KTP

Senin, 19 Februari 2018 23:34 WIB

Nazar tertawa ketika disinggung soal peran dari Ketua Fraksi PDIP saat proyek e-KTP bergulir.


Golkar Minta Kepulangan Rizieq Shihab Jangan Dijadikan Pengganggu Stabilitas Politik

Senin, 19 Februari 2018 23:19 WIB

Wasekjen Golkar Viktus Murin menilai bahwa kepulangan Rizieq merupakan hal biasa.