News / Kolom / Berita

Agama dan Pilkada

akurat logo
Imam Shamsi Ali*
Kamis, 11 Januari 2018 08:54 WIB
Share
 
Agama dan Pilkada
Imam Shamsi Ali. Dok Pribadi

AKURAT.CO.ID, Saya mendapat kesempatan berada di tanah air dalam tiga hari terakhir, bersamaan dengan masa-masa pendaftaran calon-calon yang akan bertarung di pilkada serentak di tanah air tahun ini. Sungguh banyak hal yang saya pelajari, yang boleh jadi selama ini sering saya dengar. Tapi kali ini hal-hal itu nampak di hadapan mata, bahkan serasa saya sendiri yang mengalaminya.

Manuver-manuver politik yang begitu dahsyat, bahkan tidak jarang menegangkan bagi para bakal calon dan para pendukungnya. Manuver-manuver itu tidak lepas dari “keuangan yang maha kuat”, dan himpitan kepentingan, langsung ataupun tidak. Langsung berarti dengan memenangkan kandidat tertentu ada pihak-pihak yang secara langsung meraup keuntungan, khususnya meraup keuntungan materi.

Tapi ada juga yang bertujuan dengan memenangkan kandidat tertentu merasa kepentingannya akan terlindungi, apakah itu posisi selanjutnya atau boleh jadi dari kemungkinan terbongkarnya kejahatan-kejahatan yang melibatkan dirinya. Bahkan benar tidaknya, proses pencalonan ini kerap kali melibatkan “penyanderaan” pada tingkatan tertentu.

Artinya jika tidak meloloskan kandidat tertentu maka ada “kasus” apakah itu benaran atau boleh jadi dalam bentuk “rekayasa” yang akan dimainkan untuk mencelakakang pihak-pihak yang menentukan rekomendasi sang calon.

Penentuan rekomendasi oleh pimpinan pusat partai juga menjadi dilema besar. Selain karena mereka yang di pusat belum tentu tahu realita daerah, juga pengurus partai daerah juga sarat dengan kepentingannya, yang belum tentu sejalan dengan kepentingan umum konstituennya. Realita ini yang seringkali menjadikan sikap partai-partai sangat membingunkan, seolah tidak berprinsip. Di pusat atau di daerah lain menampakkan diri sebagai musuh, tapi di daerah tertentu justeru berangkulan.

Apakah hal itu salah? Tentu tidak karena partai memang kendaraan untuk mencapai tujuan politik. Dilemanya ada pada apa yang dimaksud tujuan politik itu? Apakah itu kemaha kuasaan uang? Atau sekedar kekuasaan itu sendiri seraya menghiraukan kepentingan umum rakyat?

Yang lebih parah lagi adalah ketika partai-partai yang berangkulan untuk kandidat tertentu itu diakui sebagai partai yang secara ideologi yang kontras. Di saat-saat sebuah partai misalnya dituduh melindungi kebijakan-kebijakan yang “anti Islam dan kepentingan rakyat mayoritas” tapi di sisi lain berangkulan mendukung kandidat tertentu. Tentu hal ini bukan lagi pertimbangan “strategi” tapi sudah menjadi isu ideologi.

Religiutas musiman

Tapi ada lagi satu hal yang lucu di musim pilkada, dan juga pilihan-pilihan lainnya termasuk pemilihan anggota legislatif bahkan pilpres. Yaitu terjadinya musim beragama dadakan. Tiba-tiba saja para kandidat menjadi sangat religious dan punya perhatian kepada agama.

Ada yang selama ini dikenal liar dari agama, bahkan maaf kerap kali menampakkan ketidak simpatisan kepada agama. Tiba-tiba di saat akan memasuki hari-hari kampanye secara mendadak menjadi sangat religius. Rajin mengunjungi masjid, berpakaian koko dan songkok, bahkan memberikan janji-janji kesejahteraan kepada para takmir masjid.

Bahkan tidak lagi menjadi rahasia umum jika ada pihak-pihak yang berkepentingan menampilkan prilaku kontra yang nyata. Ambillah sebagai misal, seorang Kristiani mendirikan yayasan khusus untuk membantu pesantren, bahkan keluar masuk pesantren bagaikan seorang kyai dalam penampilan.

Semua ini menunjukkan bahwa memang agama masih menjadi komoditas menarik untuk dijual demi kepentingan-kepantingan politik. Kerap kali agama menjadi bamper bagi kepentingan-kepentingan sesaat para politisi.

Di satu sisi, sebagaimana sering saya sampaikan, masyarakat Indonesia masih sangat labil dalam emosi. Begitu mudah terbawa arus, mengikuti arus dan hembusan angin kepentingan mereka yang berkepentingan. Kelabilan emosi ini menjadikan umat dan bangsa ini sangat mudah marah, tapi juga mudah melupakan dan terbuai di kemudian hari.

Oleh karenanya di saat-saat seperti ini, di saat ketika berbagai manuver dilakukan untuk meloloskan kepentingan politik, umat harus punya prinsip. Bahwa dalam memilih hendaknya memperhatikan latar belakang, realita karakter pribadi, keluarga serta kematangan dari calon-calon yang ada.  Jangan mudah silau, apalagi terjatuh dalam perangkap kepentingan sesaat.

Khusus dalam hal agama hendaknya jeli dengan latar belakang seseorang. Agama itu tidak terjadi secara spontanitas. Agama itu adalah kehidupan. Kalau kehidupan seseorang selama ini acuh, tidak peduli, bahkan kontra dengan agama itu sendiri, lalu tiba-tiba di musim kampanye menjadi sangat agamis? Apakah itu kejujuran? Atau itu sebuah jebakan bagi khalayak ramai untuk mendukungnya.

Tapi kalau seorang kandidat itu jelas latar belakangnya, keluarganya, bahkan sikap dan kebijakan publiknya jelas memihak, jangan lagi ragu untuk memilihnya.

Pilihlah kejujuran di atas kepura-puraan.[]

 

*Presiden Nusantara Foundation


Editor. Sunardi Panjaitan

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Pangdam IX Ingatkan Potensi Konflik Meningkat di Tahun Politik

Selasa, 20 Februari 2018 02:14 WIB

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto mengingatkan akan acaman yang yang harus diantisipasi oleh dengan baik oleh bangsa Indonesia.


Bungkam Betis, Real Madrid Ciptakan Gol ke-6.000

Selasa, 20 Februari 2018 02:10 WIB

Pesta gol terjadi di markas Real Betis


Mantan Komisioner Komnas HAM Dukung Pati Polri Jadi Plt Gubernur Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 01:35 WIB

Pigai mengaku mendukung keputusan Mendagri yang mengangkat Pati Polri untuk menjadi Plt GUbernur Sumut


Seekor Paus Ditemukan Mati di Kawasan Pulau Banyak

Selasa, 20 Februari 2018 01:10 WIB

Seekor paus ditemukan mati di Pulau Asoq.


Ayah James Restui Sang Anak Tinggalkan Real Madrid

Selasa, 20 Februari 2018 01:00 WIB

Dia menjalani masa pinjaman selama dua musim di Muenchen


Dapat Nomor Urut 11, Ini Kata Ketua DPD PSI Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 00:47 WIB

Fuad Ginting mengaku bersyukur partainya itu mendapatkan nomor urut 11 pada Pemilu 2019 mendatang.


Namanya Disebut, Fahri Hamzah: Nazaruddin Panik Persekongkolan Mulai Terbuka

Selasa, 20 Februari 2018 00:27 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi pernyataan Nazaruddin yang menyebut namanya.


Persib Kehabisan Stok Striker Lokal Berkualitas?

Selasa, 20 Februari 2018 00:20 WIB

Setidaknya Persib butuh empat pemain tambahan


Terinspirasi Masa Kecil, 'Guru Ngaji' Ingin Sejahterakan Pengajar Agama

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Film dikemas secara ringan sehingga bisa menjadi tontonan bagi semua kalangan dan didedikasikan untuk pengajar agama atau guru ngaji.


Kesalahan Fatal Tim Kasta Tiga Saat Jamu Spurs

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Kedua tim harus memainkan laga replay


Pemerintah Diminta Berdamai dengan Kelompok Habib Rizieq, Jika Tidak, Ini yang Akan Terjadi

Senin, 19 Februari 2018 23:56 WIB

Pemerintah seharusnya berdamai dengan kelompok yang menjadi pendukung Habib Rizieq Shihab.


Dikhianati Istri dan Pamannya, Ini yang Dilakukan Sandi

Senin, 19 Februari 2018 23:46 WIB

Pelaku emosi saat melihat korban melintas membawa dagangan dari arah utara.


Meski Kepulangan Habib Rizieq Belum Pasti, Eggi Sudjana Klaim Puluhan Ormas Siap Kawal

Senin, 19 Februari 2018 23:45 WIB

Eggi Sudjana mengklaim akan ada puluhan ormas yang bakal menjemput Habib Rizieq Shihab di Bandara Soekarno Hatta 21 Februari mendatang.


Nazarudin Tiba-tiba Merintih saat Ditanya Soal Puan Maharani di e-KTP

Senin, 19 Februari 2018 23:34 WIB

Nazar tertawa ketika disinggung soal peran dari Ketua Fraksi PDIP saat proyek e-KTP bergulir.


Golkar Minta Kepulangan Rizieq Shihab Jangan Dijadikan Pengganggu Stabilitas Politik

Senin, 19 Februari 2018 23:19 WIB

Wasekjen Golkar Viktus Murin menilai bahwa kepulangan Rizieq merupakan hal biasa.