News / Kolom / Berita
Kolom

Pilkada Zaman Now

akurat logo
Ujang Komarudin
Kamis, 01 Februari 2018 14:18 WIB
Share
 
Pilkada Zaman Now
Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Dok. Pribadi

AKURAT.CO.ID, Membahas Pilkada serentak 2018 tidak akan ada habis-habisnya. Pilkada zaman now akan diwarnai oleh pemilih zaman now pula. Karakteristik pemilih zaman now tentu berbeda dengan pemilih tradisional atau pemilih zaman old. Pemilih zaman now lebih rasional dan sangat mengandalkan otak daripada otot dan dengkul. Pilkada zaman now akan menjadi kekuatan bagi pemilih zaman now untuk terlibat aktif dalam politik. Gelora jiwa muda pemilih zaman now tidak hanya akan mewarnai dan mempengaruhi Pilkada. Tetapi juga akan menjadi faktor menentukan dalam perpolitikan nasional kedepan.

Pilkada zaman now juga diwarnai oleh fenomena kuatnya incumbent di beberapa daerah yang menghasilkan calon tunggal. Ada 19 daerah yang Paslonnya hanya satu dan melawan kotak kosong. Entah apa yang terjadi. Demokrasi memang memberi pilihan kepada siapapun untuk dapat bertarung dalam Pilkada. Namun orang sering lupa bahwa demokrasi juga akan memunculkan orang-orang kaya atau orang kuat lokal yang dapat membajak demokrasi. Calon tunggal di beberapa daerah membuktikan bahwa Pilkada tidak memberi ruang kepada yang lain untuk ikut dalam kontestasi politik Pilkada.

Pilkada yang berbarengan dengan tahun politik membuat Pilkada penuh dinamika. Fenomena mahar politik, calon tunggal, wacana penunjukkan Plt Gubernur dari kalangan jenderal aktif, money politics, pecahnya alumni 212 –banyak alumni yang tidak direkomendasi partai tertentu untuk menjadi calon kepala daerah-- jenderal dan eks jenderal TNI/Polri menjadi kontestan peserta Pilkada, dan partai-partai politik berlomba membajak non kader untuk menjadi calon kepala daerah. Semua itu menandakan bahwa Pilkada zaman now menjadi pesta demokrasi rakyat yang harus dikelola dengan baik.

Pilkada zaman now merupakan barometer untuk mengukur kekuatan pada Pileg dan Pilpres 2019. Pilkada zaman now merupakan pertarungan dalam menjaga eksistensi partai politik. Pilkada zaman now merupakan pertarungan adu pengaruh, strategi dan kekuatan para calon presiden. Pilkada zaman now merupakan Pilkada pertarungan hidup mati para aktor dan elit pemburu kekuasaan. Dan Pilkada zaman now harus membawa perubahan dan perbaikan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Pilkada zaman now jangan sampai merusak persaudaraan. Pilkada zaman now jangan sampai mengoyak rasa persatuan dan kesatuan. Pilkada zaman now jangan sampai menumbuhkan rasa kebencian dan permusuhan. Pilkada zaman now jangan sampai menciptakan konflik horizontal. Pilkada zaman now jangan sampai membawa malapetaka dan kesengsaraan bagi masyarakat. Pilkada zaman now harus melahirkan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya. Pemimpin yang se-iya dan sekata antara antara perkataan dan perbuatan. Dan pemimpin yang membanggakan bagi yang dipimpinnya.

Untuk mengikuti dan menjadi peserta Pilkada memang tidak mudah. Butuh modal besar dan uang banyak untuk menjadi calon kepala daerah. Uang memang masih menjadi raja dan menentukan dalam hiruk-pikuk Pilkada zaman now.

Untuk menjadi calon kepala daerah, bukan seberapa hebat kita, pernah kuliah di kampus terbaik –dalam dan luar negeri-- berprestasi ditingkat nasional dan internasional, penulis puluhan buku best seller, cendekiawan dengan prestasi segudang, intelektual dengan karya monumental. Bukan, bukan itu yang pertama akan ditanya oleh pimpinan partai politik. Pertanyaan pertama dan utama adalah seberapa besar dan banyak Anda memiliki uang. Karena bagi pemuja kekuasaan. Dengan memiliki uang lima puluh persen pertarungan dalam Pilkada sudah dimenangkan. Inilah yang membuat demokrasi menjadi rusak. Demokrasi dibajak oleh para elit politik sehingga demokrasi menjadi mahal. Dan hanya orang-orang yang berduitlah yang akan menjadi kepala daerah.

Pilkada zaman now sesungguhnya memberi ruang kepada bangsa ini untuk berubah. Karena hanya dengan Pilkada akan terpilihlah pemimpin-pemimpin yang arif dan bijaksana yang akan membangun bangsa dan negara. Pilkada zaman now harus membawa harapan yang besar dan tinggi bagi masyarakat. Masyarakat harus tercerahkan. Bukan termarginalkan. Masyarakat harus terdidik. Bukan diulik. Masyarakat harus senang. Bukan ditendang. Masyarakat harus dilayani. Bukan melayani. Dan masyarakat harus sejahtera. Bukan dihina.

Sejatinya Pilkada zaman now menjadi sarana bagi rakyat untuk berdaulat. Bukan untuk dilaknat. Rakyat harus menjadi subjek bukan menjadi objek pembangunan. Rakyat harus menjadi raja. Bukan diarahkan untuk menjadi durjana. Rakyat yang harus menentukan bulat lonjong dan maju mundurnya suatu daerah. Rakyat jangan dibohongi dan ditipu dengan obral janji-janji yang tanpa realisasi.

Pilkada zaman now harus menjadi contoh dan referensi bagi dunia. Bahwa Pilkada di Indonesia menjadi ajang mecari pemimpin pilihan. Pemimpin yang bisa berprestasi ditingkat dunia. Semoga dalam Pilkada zaman now dapat melahirkan gubernur/bupati/walikota yang memiliki kualitas dan berprestasi ditingkat internasional. Karena bisa saja suatu hari nanti kepala daerah yang terpilih di Pilkada 2018 ini dapat menjadi pemimpin nasional dan internasional.

Pemimpin yang berkualitas baik, tidak datang dengan sendirinya. Tetapi harus diciptakan dan dikader. Oleh karena itu, kaderisasi kepemimpinan di tingkat lokal dan nasional menjadi keniscayaan. Bangsa ini harus dibangun dengan kekuatan kepemimpinan yang berkarakter dan berkualitas unggul.

Rakyat akan bangga jika daerahnya menjadi maju, kesejahteraannya meningkat, dipimpin oleh kepala daerah pilihan dan berprestasi. Kepemimpinan yang menginspirasi dan menjadi suri tauladan juga menjadi kunci pembangunan daerah dan bangsa. Kepala daerah yang menginspirasi akan diikuti dan dituruti oleh warganya. Dan kepemimpinan yang memberi contoh yang baik kepada rakyatnya akan menjadi panutan bagi warganya. Antara pemimpin dan rakyat harus bahu membahu dalam membawa daerahnya maju dan dapat bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia.

Pilkada zaman now jangan sampai menjadi Pilkada yang menyebalkan dan berlumur dosa karena Pilkadanya diwarnai dengan kecurangan. Salah satu bentuk kecurangan yaitu membeli suara pemilih dengan uang. Mari kita lawan politik uang dengan menjaga moralitas kita sebagai pemilih. Kitalah yang menentukan apakah Pilkada zaman now berjalan dengan normal atau curang. Kecurangan hanya akan menghasilkan pemimpin yang bermoral bejat dan laknat.

 

(Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas AL-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta).

 


Editor. Sunardi Panjaitan

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Pangdam IX Ingatkan Potensi Konflik Meningkat di Tahun Politik

Selasa, 20 Februari 2018 02:14 WIB

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto mengingatkan akan acaman yang yang harus diantisipasi oleh dengan baik oleh bangsa Indonesia.


Bungkam Betis, Real Madrid Ciptakan Gol ke-6.000

Selasa, 20 Februari 2018 02:10 WIB

Pesta gol terjadi di markas Real Betis


Mantan Komisioner Komnas HAM Dukung Pati Polri Jadi Plt Gubernur Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 01:35 WIB

Pigai mengaku mendukung keputusan Mendagri yang mengangkat Pati Polri untuk menjadi Plt GUbernur Sumut


Seekor Paus Ditemukan Mati di Kawasan Pulau Banyak

Selasa, 20 Februari 2018 01:10 WIB

Seekor paus ditemukan mati di Pulau Asoq.


Ayah James Restui Sang Anak Tinggalkan Real Madrid

Selasa, 20 Februari 2018 01:00 WIB

Dia menjalani masa pinjaman selama dua musim di Muenchen


Dapat Nomor Urut 11, Ini Kata Ketua DPD PSI Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 00:47 WIB

Fuad Ginting mengaku bersyukur partainya itu mendapatkan nomor urut 11 pada Pemilu 2019 mendatang.


Namanya Disebut, Fahri Hamzah: Nazaruddin Panik Persekongkolan Mulai Terbuka

Selasa, 20 Februari 2018 00:27 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi pernyataan Nazaruddin yang menyebut namanya.


Persib Kehabisan Stok Striker Lokal Berkualitas?

Selasa, 20 Februari 2018 00:20 WIB

Setidaknya Persib butuh empat pemain tambahan


Terinspirasi Masa Kecil, 'Guru Ngaji' Ingin Sejahterakan Pengajar Agama

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Film dikemas secara ringan sehingga bisa menjadi tontonan bagi semua kalangan dan didedikasikan untuk pengajar agama atau guru ngaji.


Kesalahan Fatal Tim Kasta Tiga Saat Jamu Spurs

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Kedua tim harus memainkan laga replay


Pemerintah Diminta Berdamai dengan Kelompok Habib Rizieq, Jika Tidak, Ini yang Akan Terjadi

Senin, 19 Februari 2018 23:56 WIB

Pemerintah seharusnya berdamai dengan kelompok yang menjadi pendukung Habib Rizieq Shihab.


Dikhianati Istri dan Pamannya, Ini yang Dilakukan Sandi

Senin, 19 Februari 2018 23:46 WIB

Pelaku emosi saat melihat korban melintas membawa dagangan dari arah utara.


Meski Kepulangan Habib Rizieq Belum Pasti, Eggi Sudjana Klaim Puluhan Ormas Siap Kawal

Senin, 19 Februari 2018 23:45 WIB

Eggi Sudjana mengklaim akan ada puluhan ormas yang bakal menjemput Habib Rizieq Shihab di Bandara Soekarno Hatta 21 Februari mendatang.


Nazarudin Tiba-tiba Merintih saat Ditanya Soal Puan Maharani di e-KTP

Senin, 19 Februari 2018 23:34 WIB

Nazar tertawa ketika disinggung soal peran dari Ketua Fraksi PDIP saat proyek e-KTP bergulir.


Golkar Minta Kepulangan Rizieq Shihab Jangan Dijadikan Pengganggu Stabilitas Politik

Senin, 19 Februari 2018 23:19 WIB

Wasekjen Golkar Viktus Murin menilai bahwa kepulangan Rizieq merupakan hal biasa.