News / Kolom / Berita
Kolom

Demokrasi Kaum Penjahat

akurat logo
Ujang Komarudin
Kamis, 08 Februari 2018 16:44 WIB
Share
 
Demokrasi Kaum Penjahat
Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Dok. Pribadi

AKURAT.CO.ID, Demokrasi atau roti. Demokrasi merupakan pilihan kita dalam berpolitik, sedangkan roti melambangkan kesejahteraan. Apa hubungannya Demokrasi dengan roti. Sesungguhnya jika kita sudah memilih demokrasi sebagai sistem politik yang kita ikuti bersama, sejatinya demokrasi harus menjadi alat agar masyarakat sejahtera. Roti bisa melambangkan negara non-demokratis yang rakyatnya sejahtera.

Lihat dua negara tetangga kita –Malaysia dan Singapura—kedua negara tersebut bukanlah negara yang demokratis seperti Indonesia. Tetapi kedua negara tersebut lebih maju dan lebih sejahtera dari negara kita. Artinya negara yang tidak demokratis seperti Malaysia dan Singapura bisa menjadikan rakyatnya maju dan sejahtera.

Bagaimana dengan Indonesia yang memilih demokrasi. Demokrasi Indonesia sedang menuju arah kriminal seperti itulah yang pernah dikatakan oleh Haryono Umar, mantan pimpinan KPK. Kriminal mungkin karena banyak pejabat kita yang berfikir dan bersikap kriminal. Dan melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti korupsi dan lain-lain.

Meminjam istilah Juan J. Linz, dalam bukunya menjauhi demokrasi kaum penjahat: belajar dari kekeliruan negara-negara lain. Kita mesti menghindari demokrasi yang tumbuh dan dikembangkan oleh para kaum penjahat baik di daerah maupun di pusat. Demokrasi dikhianati oleh kaum penjahat untuk merusak sendi-sendi bernegara.

Minggu yang lalu, dua kepala daerah Bupati Jombang Nyono Suharli dan Gubernur Jambi Zumi Zola dijadikan tersangka oleh KPK. Belum lagi sebelum-sebelumnya banyak deretan kepala daerah yang kena OTT KPK. Apakah ada yang salah dari sistem demokrasi ataukah memang sistem kita yang sudah rusak dan hancur karena perangai elit-elitnya yang korup dan tak bermoral.

Demokrasi memang merupakan sistem tebaik dari yang terburuk. Demokrasi yang dikelola dengan baik akan menghasilkan sistem yang baik. Namun jika demokrasi disalahgunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik kekuasaan yang lalim dan zholim, maka demokrasi akan menjadi sumber bencana.

Demokrasi merupakan sistem politik yang diimpor dari Barat. Laiknya barang dan pemikirian dari luar, tentu akan disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia yang memang sudah demokratis. Namun demokrasi di Indonesia masih jauh dari cita-cita kita bersama yaitu kesejahteraan dan kemakmuran sesuai dengan cita-cita berbangsa dan bernegara.

Jika negara-negara Barat dan Eropa dengan demokrasinya mereka bisa sejahtera. Kenapa Indonesia dengan demokrasi masih miskin dan melarat rakyatnya. Kita masih mengimpor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kebanyak negara di dunia. Dan mencari kerja di dalam negeri juga sangat sulit.

Demokrasi liberal memang akan membawa dampak kerusakan bagi Indonesia jika tidak diatur dengan baik. Demokrasi sejatinya memberikan peluang kepada setiap individu warga negara untuk berkompetisi dalam politik dan sukses dalam menjalani kehidupan bernegara. Demokrasi juga memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkarya terbaik dan menjadi yang terbaik.

Namun demokrasi juga akan dimanfaatkan oleh kaum penjahat untuk merusak tatanan politik. Sistem politik kita cenderung terbuka dan cenderung liberal. Dalam sistem yang liberal, hanya orang-orang kaya lah yang akan lebih berpotensi untuk memegang kekuasaan. Jadi jabatan-jabatan politik lebih banyak akan dikuasai oleh kaum pemilik modal dan para borjuis.

Pilkada sebagai bagian dari pesta demokrasi untuk memilih kepala daerah terbaik telah melahirkan kepala-kepala daerah yeng bermental busuk dan korup. Semua ini disebabkan oleh biaya politik untuk menjadi calon kepala daerah yang mahal dan berbiaya tinggi. Tingginya uang yang dikeluarkan oleh para calon kepala daerah menjadikan calon kepala daerah melakukan kongkalingkong dengan para pengusaha. Dan ketika terpilih nanti akan mengijonkan proyek daerah kepada para pengusaha.

Tingginya biaya politik dan perilaku elit politik yang bermental korup menjadikan Pilkada penuh dengan permainan uang dan kecurangan. Pilkada langsung telah melahirkan korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif. Pilkada telah dibajak oleh para elit untuk memburu kekuasaan dengan tanpa aturan. Dan demokrasi telah dirusak oleh aktor-aktor politik sehingga demokrasi menjadi hampa dan tak bermakna.

Demokrasi yang harusnya mencerahkan dan mensejahterakan dibajak dan dirusak oleh para kaum penjahat untuk melangggengkan kekuasaannya. Kekuasaan bagi mereka harus direbut dan dipertahankan dengan cara apapun. Demokrasi menjadi rusak ditangan elit yang rusak. Dan demokrasi akan menjadi berkah jika demokrasi diterapkan dijalankan oleh penguasa dan rakyat yang baik.

Demokrasi kaum penjahat menjadikan bangsa ini dikuasai oleh para kaum penjahat. Kaum penjahat akan menjadikan demokrasi suram. Suram karena kita akan dibawa kepada politik kekuasaan yang monolitik. Dan demokrasi hanya akan melegitimisi kaum penjahat untuk berkuasa. Demokrasi juga akan diarahkan untuk mengeruk kekayaan alam nusantara. Seolah-olah demokrasi padahal kita sedang ada pada alam otoriter.

Demokrasi jangan biarkan dikuasai oleh para kaum penjahat. Jangan biarkan demokrasi menghasilkan pemimpin-pemimpin nasional dan daerah yang bermental bejat, rusak, dan korup. Demokrasi harus mencerahkan, membahagiakan, dan mensejahterakan. Negara demokrasi juga rakyatnya harus “kenyang” makan roti.

Jadi sesungguhnya negara demokrasi seperti Indonesia juga bisa untuk menjadi negara kaya dan sejahtera. Jadi ending demokrasi haruslah bemuara kepada kesejahteraan dan kemakmuran. Buat apa demokrasi jika tidak sejahtera. Buat apa demokras jika masih sengsara. Oleh karena itu, pilihan demokrasi haruslah menjadi pilihan yang nyaman dan nyaman untuk rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia membutuhkan roti “kesejahteran”. Jadi apapun pilihan kita berdemokrasi haruslah menjadikan rakyat bahagia dan sejahtera.

Menjadi demokrasi yang mensejahterakan dan membahagiakan adalah pilihan yang terbaik. Tapi kapankah demokrasi yang kita anut akan membawa kemakmuran. Indonesia raya yang kaya raya ini membutuhkan demokrasi yang berkeadilan. Demokrasi yang membawa nilai-nilai kebaikan. Bukan demokrasi yang dikuasai oleh para kaum penjahat. Jika demokrasi dikuasai dan dimainkan oleh para kaum penjahat, maka tunggulah kehancuran suatu bangsa.

Demokrasi harus menghasilkan keyakinan bahwa demokrasi berpihak pada wong cilik. Bukan berpihak kepada kaum pemilik modal. Demokrasi kaum penjahat harus dijauhkan dari negara tercinta kita ini. Mari kita hindari dan jauhkan demokrasi dari para kaum penjahat dan penjilat.[]

 

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.


Editor. Sunardi Panjaitan

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Pangdam IX Ingatkan Potensi Konflik Meningkat di Tahun Politik

Selasa, 20 Februari 2018 02:14 WIB

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto mengingatkan akan acaman yang yang harus diantisipasi oleh dengan baik oleh bangsa Indonesia.


Bungkam Betis, Real Madrid Ciptakan Gol ke-6.000

Selasa, 20 Februari 2018 02:10 WIB

Pesta gol terjadi di markas Real Betis


Mantan Komisioner Komnas HAM Dukung Pati Polri Jadi Plt Gubernur Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 01:35 WIB

Pigai mengaku mendukung keputusan Mendagri yang mengangkat Pati Polri untuk menjadi Plt GUbernur Sumut


Seekor Paus Ditemukan Mati di Kawasan Pulau Banyak

Selasa, 20 Februari 2018 01:10 WIB

Seekor paus ditemukan mati di Pulau Asoq.


Ayah James Restui Sang Anak Tinggalkan Real Madrid

Selasa, 20 Februari 2018 01:00 WIB

Dia menjalani masa pinjaman selama dua musim di Muenchen


Dapat Nomor Urut 11, Ini Kata Ketua DPD PSI Sumut

Selasa, 20 Februari 2018 00:47 WIB

Fuad Ginting mengaku bersyukur partainya itu mendapatkan nomor urut 11 pada Pemilu 2019 mendatang.


Namanya Disebut, Fahri Hamzah: Nazaruddin Panik Persekongkolan Mulai Terbuka

Selasa, 20 Februari 2018 00:27 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi pernyataan Nazaruddin yang menyebut namanya.


Persib Kehabisan Stok Striker Lokal Berkualitas?

Selasa, 20 Februari 2018 00:20 WIB

Setidaknya Persib butuh empat pemain tambahan


Terinspirasi Masa Kecil, 'Guru Ngaji' Ingin Sejahterakan Pengajar Agama

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Film dikemas secara ringan sehingga bisa menjadi tontonan bagi semua kalangan dan didedikasikan untuk pengajar agama atau guru ngaji.


Kesalahan Fatal Tim Kasta Tiga Saat Jamu Spurs

Selasa, 20 Februari 2018 00:05 WIB

Kedua tim harus memainkan laga replay


Pemerintah Diminta Berdamai dengan Kelompok Habib Rizieq, Jika Tidak, Ini yang Akan Terjadi

Senin, 19 Februari 2018 23:56 WIB

Pemerintah seharusnya berdamai dengan kelompok yang menjadi pendukung Habib Rizieq Shihab.


Dikhianati Istri dan Pamannya, Ini yang Dilakukan Sandi

Senin, 19 Februari 2018 23:46 WIB

Pelaku emosi saat melihat korban melintas membawa dagangan dari arah utara.


Meski Kepulangan Habib Rizieq Belum Pasti, Eggi Sudjana Klaim Puluhan Ormas Siap Kawal

Senin, 19 Februari 2018 23:45 WIB

Eggi Sudjana mengklaim akan ada puluhan ormas yang bakal menjemput Habib Rizieq Shihab di Bandara Soekarno Hatta 21 Februari mendatang.


Nazarudin Tiba-tiba Merintih saat Ditanya Soal Puan Maharani di e-KTP

Senin, 19 Februari 2018 23:34 WIB

Nazar tertawa ketika disinggung soal peran dari Ketua Fraksi PDIP saat proyek e-KTP bergulir.


Golkar Minta Kepulangan Rizieq Shihab Jangan Dijadikan Pengganggu Stabilitas Politik

Senin, 19 Februari 2018 23:19 WIB

Wasekjen Golkar Viktus Murin menilai bahwa kepulangan Rizieq merupakan hal biasa.